Isu pendidikan ekologis berbasis Islam kembali mengemuka dalam diskursus publik di Sulawesi Tengah. Dalam diskusi Podcast Resonara episode ke-8 yang digelar Minggu (3/5/2026) pukul 20.30 WITA, akademisi menyoroti pentingnya kesadaran lingkungan yang diintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman.
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Datokarama Palu, Saefudin Masyuri, menyatakan bahwa pendekatan edu ekologis Islam menjadi sangat relevan di tengah meningkatnya kerusakan alam. Menurutnya, pendidikan tidak boleh lagi hanya berfokus pada penguasaan teknologi dan intelektual semata, namun harus memiliki tanggung jawab moral terhadap kelestarian alam.
Saefudin menegaskan bahwa sistem pendidikan nasional perlu memastikan output atau lulusan yang dihasilkan tetap memiliki karakter ramah lingkungan. Nilai-nilai Islam dipandang memiliki fondasi kuat dalam mengatur hubungan antara manusia dengan alam semesta sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab kekhalifahan.
“Konsep ini menjadi penting ketika kita ingin melihat masa depan bumi yang sustainability dan memberikan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia, khususnya Indonesia,” ujar Saefudin Masyuri dalam diskusi tersebut.
Ia menambahkan, orientasi pendidikan lingkungan ini bukan sekadar teori di dalam kelas. Implementasinya harus mampu menyentuh aspek kesadaran paling dalam sehingga setiap individu merasa bertanggung jawab terhadap setiap tindakan yang berdampak pada ekosistem.
Kritik juga diarahkan pada paradigma pendidikan nasional saat ini yang dianggap masih perlu diperluas. Saefudin menilai, mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul secara kompetensi kerja saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kesadaran ekologis yang mumpuni.
Kurikulum pendidikan di masa depan diharapkan lebih adaptif terhadap isu-isu perubahan iklim dan krisis lingkungan. Dengan memasukkan unsur edu ekologis Islam, institusi pendidikan seperti UIN Datokarama Palu berupaya menjembatani antara kebutuhan pembangunan ekonomi dengan pelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Langkah ini diharapkan menjadi pemantik bagi institusi pendidikan lain di Sulawesi Tengah untuk mulai memprioritaskan isu lingkungan dalam setiap jenjang pembelajaran. Fokus utamanya adalah menciptakan keseimbangan antara kemajuan peradaban manusia dengan daya dukung alam yang kian terbatas.