Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari setelah banjir bandang menerjang Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Rabu (26/8) dini hari. Sedikitnya 12 rumah warga rusak dan 50 rumah terendam lumpur akibat luapan sungai yang dipicu hujan lebat.
PALU — Status tanggap darurat bencana banjir bandang resmi berlaku di Kabupaten Parigi Moutong terhitung sejak 26 Agustus hingga 8 September. Penetapan ini menyusul luapan sungai yang membawa material lumpur dan potongan kayu ke pemukiman warga di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara.
Pelaksana tugas Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, menyatakan masa tanggap darurat difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar korban, pembersihan lumpur di pemukiman, hingga normalisasi sungai.
Jalur Trans Sulawesi Sempat Terganggu, Kini Sudah Bisa Dilalui
Banjir yang terjadi sekitar pukul 01.00 Wita itu sempat melumpuhkan akses lalu lintas di jalur Trans Sulawesi. Badan jalan tertimbun lumpur setebal kurang lebih 500 meter, membuat arus kendaraan macet total.
"Arus lalu lintas sempat macet, sekarang sudah normal kendaraan sudah bisa melintas. Meski begitu kami mengimbau pengguna jalan tetap berhati-hati, karena jalan masih licin," ucap Rivai.
Sejumlah alat berat dikerahkan untuk membersihkan tumpukan lumpur dan gelondongan kayu yang tersapu banjir di jalur utama tersebut.
200 Personel Gabungan Dikerahkan ke Lokasi Bencana
Penanganan darurat melibatkan lintas sektor dengan mengerahkan kurang lebih 200 personel TNI/Polri yang bergabung bersama tim di lapangan. Mereka membantu evakuasi dan percepatan pemulihan wilayah terdampak.
"Penanganan tanggap darurat tentunya melibatkan lintas sektor melalui kerja-kerja kolaborasi. Saat ini kurang lebih 200 personel TNI/Polri bergabung dengan tim di lapangan," jelas Moh Rivai.
Pabrik Durian Ikut Terdampak, BPBD Fokus pada Layanan Dasar
Selain merusak belasan rumah dan menggenangi puluhan lainnya, banjir bandang juga berdampak pada satu unit pabrik durian di kawasan tersebut. Data sementara BPBD mencatat material lumpur dan sedimentasi menutupi badan jalan sepanjang 500 meter.
"Tentunya di masa tanggap darurat layanan kebutuhan dasar masyarakat kami utamakan," kata Rivai menegaskan prioritas penanganan saat ini.