SULAWESI TENGAH — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan mengepung Singapura, Malaysia, dan sebagian Indonesia, mengganggu penerbangan hingga kegiatan wisata luar ruangan. Kuala Lumpur, Singapura, dan Jakarta masuk daftar 10 kota besar dengan polusi udara tertinggi di dunia versi IQAir per 20 Oktober. Wisatawan yang merencanakan liburan ke kawasan ini perlu mencermati kondisi udara sebelum berangkat.
Perusahaan pemantau kualitas udara IQAir mencatat ketiga kota besar itu bertengger di peringkat atas polusi global pada 20 Oktober. Singapura bahkan mengalami kondisi udara tidak sehat selama 19 hari berturut-turut, dari 5 hingga 23 Oktober, menurut laporan The Straits Times.
Bagi industri pariwisata, tekanan datang tepat saat pelaku usaha bersiap menyambut musim liburan. Destinasi di kawasan ini memang banyak bergantung pada wisata alam, aktivitas luar ruangan, dan konektivitas penerbangan.
Penyedia layanan wisata di Singapura merasakan langsung dampaknya. Six Stars Tours and Services melaporkan penurunan pemesanan wisatawan datang sekaligus kenaikan pembatalan sejak kualitas udara memburuk pada September.
VTL Travel, yang mengelola tur jalan kaki, bersepeda, dan kegiatan perusahaan lewat merek Rediscover Singapore, mencatat penjualan tiket turun sekitar 20-30 persen sejak bulan yang sama. Jumlah tur yang biasanya digelar empat hingga delapan kali per bulan menyusut menjadi hanya dua tur selama September dan Oktober.
Perusahaan itu mempertimbangkan memindahkan sebagian kegiatan ke dalam ruangan. Pelanggan juga diberi keleluasaan mengubah tanggal kunjungan tanpa biaya tambahan.
Sebagian wisatawan memilih mengubah rencana perjalanan demi mengurangi paparan polusi. Sebagian lain tetap beraktivitas dengan mengenakan masker N95.
Malaysia menghadapi persoalan serupa, terutama di Johor yang jadi tujuan wisata akhir pekan warga Singapura. Ivan Teo, Ketua Asosiasi Hotel Malaysia cabang Johor, menyebut pemesanan hotel turun sekitar 20 persen sejak kabut asap memengaruhi wilayah tersebut.
Jarod Chia, Ketua Asosiasi Hotel Bujet Malaysia cabang Johor, mengungkapkan anggota asosiasinya mengalami penurunan tingkat hunian 15-20 persen dalam dua minggu terakhir. Perlambatan pemesanan kamar selama periode itu dinilai berkaitan dengan kabut asap.
Johor dikenal dengan wisata pulau dan kegiatan bersepeda yang mengandalkan udara segar. Kabut asap mengurangi kenyamanan wisatawan dan memengaruhi keputusan mereka untuk berkunjung.
Di Indonesia, kabut asap tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga penerbangan serta wisata berbasis alam. Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah menjadi salah satu destinasi yang berpotensi terdampak.
Kawasan konservasi ini terkenal sebagai lokasi pengamatan orang utan dan banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, termasuk dari Eropa. Asap tebal mengurangi jarak pandang, mempersulit perjalanan menuju destinasi, dan menurunkan kenyamanan wisatawan saat berkegiatan di alam terbuka.
Jika kondisi berlangsung lama, wisatawan berpeluang menunda perjalanan atau beralih ke tujuan lain. Informasi terkini soal kondisi lapangan dapat dikonfirmasi ke pengelola taman nasional atau dinas pariwisata setempat.
Kabut asap lintas negara dipengaruhi kebakaran, cuaca kering, dan arah angin yang membawa asap ke negara tetangga. Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASEAN Specialised Meteorological Centre) memperingatkan curah hujan di bawah normal dan kondisi El Niño berpotensi memperburuk titik panas serta kabut asap di sebagian kawasan.
Angin tenggara hingga barat daya dapat membawa asap dari Sumatra dan Kalimantan menuju Singapura. Hujan yang meningkat pada peralihan musim berpotensi membantu mengurangi kabut, tetapi dampaknya bergantung pada kondisi cuaca masing-masing wilayah.
Kabut asap bukan sekadar persoalan lingkungan dan kesehatan. Pembatalan tur, penurunan pemesanan hotel, berkurangnya aktivitas luar ruangan, hingga potensi gangguan penerbangan membuat wisatawan perlu lebih cermat menyusun rencana perjalanan ke kawasan Asia Tenggara pada periode ini.