MOROWALI UTARA — Dialog Kebangsaan di Morowali Utara tahun ini dirangkai dengan peringatan Hari Santri Nasional 2026. Pemerintah daerah memakai forum itu untuk menegaskan bahwa pembangunan tidak cukup diukur dari fisik dan pertumbuhan ekonomi.
Delis menyebut aspek spiritual, moral, dan karakter masyarakat harus ikut disentuh. Visi daerah untuk mewujudkan masyarakat sehat, cerdas, dan sejahtera, menurut dia, mesti dimaknai menyeluruh.
Bupati menilai tokoh agama, pengasuh pondok pesantren, dan guru agama memegang peran strategis. Mereka membentuk masyarakat berakhlak, menjaga kedamaian, dan menanamkan nilai positif kepada generasi muda.
"Peran pendidikan keagamaan sangat penting bagi daerah ini dan bagi bangsa. Para tokoh agama, pemimpin pesantren, pengasuh, dan guru-guru agama memegang peranan besar dalam membangun sumber daya manusia yang sehat secara jasmani dan rohani, cerdas secara intelektual dan spiritual, serta sejahtera lahir dan batin," kata Delis.
Pemkab Morowali Utara berkomitmen menjaga perhatian pada sektor pendidikan dan pembinaan keagamaan. Kebijakan efisiensi anggaran tidak memangkas insentif bagi imam, pendeta, dan pemangku.
Pendidikan gratis bagi siswa juga tetap dijalankan. Delis menyebut pendidikan sebagai investasi penting untuk menyiapkan generasi penerus daerah dan bangsa.
Kepada santri dan pelajar yang hadir, Delis meminta mereka terus menuntut ilmu dan memperkuat akhlak. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemampuan berinovasi juga ditekankan.
"Kalian adalah masa depan daerah ini dan masa depan bangsa ini. Tuntutlah ilmu dengan sebaik-baiknya, jadilah generasi yang berakhlak mulia, memiliki kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi, serta terus berinovasi," ujarnya.
Ia mengingatkan keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi. Manfaat yang diberikan kepada masyarakat menjadi ukuran lain yang disebutnya penting.
Ketua TP-PKK Morowali Utara yang juga anggota DPD RI dapil Sulawesi Tengah, Febriyanthi Hongkiriwang, menyampaikan materi soal empat pilar kebangsaan. Ia menjabarkan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan yang perlu dipahami dan diamalkan masyarakat.
Pemahaman nilai-nilai itu diharapkan memperkuat persatuan dan menumbuhkan sikap saling menghormati. Kehidupan masyarakat majemuk pun diharapkan tetap harmonis.
Dialog Kebangsaan juga diisi diskusi interaktif. Bahasan mencakup penguatan ideologi Pancasila, moderasi beragama, serta kontribusi pemuda dan santri dalam pembangunan daerah.