Karyawan IMIP Morowali Ini Analis Kimia di Siang Hari, Petani Hidroponik di Sela Shift

Penulis: Oki Setiawan  •  Sabtu, 26 September 2026 | 14:16:01 WIB
Meidi Yurianti Mangkasa bekerja sebagai analis kimia dan air di Departemen Testing Center PT TTRI, salah satu tenant di Kawasan IMIP.

MOROWALI — Meidi Yurianti Mangkasa bukan nama yang biasa muncul di papan produksi nikel. Perempuan ini bekerja sebagai Analis Kimia dan Air pada Departemen Testing Center PT TTRI, salah satu tenant di Kawasan IMIP. Di luar jam laboratorium, ia mengelola green house hidroponik di Desa Makarti, Kecamatan Bahodopi.

Usaha itu bermula dari balkon tempat kosnya di Desa Labota. Meidi membeli polibag, mencari tanah yang dianggap subur, lalu menanam berbagai tanaman sendiri. Hasil panennya dimasak sendiri, sebagian dibagikan ke teman dan tetangga kos.

Suatu ketika, selada hasil panennya diunggah ke media sosial dan seorang teman tertarik membeli. Saat itu ia menjualnya sekitar Rp5.000 per tanaman. Dari transaksi sederhana itu, Meidi mulai mencari tahu siapa saja yang membutuhkan selada di Bahodopi.

Dari Balkon Kos ke Green House Produksi

Maret 2023, Meidi membangun green house yang lebih serius. Panen pertama dari pengembangan tersebut dilakukan pada Mei 2023. Usaha itu diberi nama Mey Farm Hidroponik.

Pada tahap pembibitan, tanaman mendapat konsentrasi nutrisi sekitar 500–600 ppm. Setelah sekitar 10 hari, tanaman dipindahkan ke tahap remaja dengan konsentrasi sekitar 800–900 ppm selama 17–20 hari. Berikutnya masuk meja dewasa dengan konsentrasi sekitar 1.000–1.200 ppm hingga siap dipanen pada usia sekitar 40 hari.

Ilmu kimia dari laboratorium menjadi modalnya. Pekerjaan sebagai analis melatih ketelitian, sementara hobi menanam membuka jalan masuk ke pasar lokal. Media sosial dipakai sebagai alat pemasaran.

"Saya harus ngonten biar orang tahu saya jual selada," kata Meidi.

Meidi mengakui waktu menjadi taruhan utama. Rutinitas di laboratorium dan mengurus green house harus dibagi.

"Kalau mau untung lebih, memang harus korban waktu," ujarnya saat dijumpai di green house miliknya.

Selada Mey Farm Dipasok ke Kuliner Bahodopi

Restoran, usaha burger dan kebab, frozen food, hingga berbagai usaha kuliner di Bahodopi menjadi calon konsumen Mey Farm. Salah satu pelanggannya adalah Eka Oktavia, pemilik Frozen Food Bahomakmur.

Eka mengaku sering memesan selada di Mey Farm Hidroponik. Menurut penilaiannya, rasa selada itu tidak pahit, ukurannya besar, dengan harga terjangkau Rp10.000 per pohon.

"Kemasannya proper, bisa tahan hingga 10 hari dalam lemari pendingin," kata Eka Oktavia.

Rencana Tambah Kapasitas dan Serap Tenaga Kerja Warga

Meidi sedang memperluas green house untuk meningkatkan kapasitas produksi selada. Ia berharap dapat merekrut masyarakat sekitar Bahodopi dan membuka lapangan pekerjaan baru.

Kesadaran bahwa status karyawan tidak berlangsung selamanya menjadi salah satu alasannya membangun usaha sejak sekarang. Meidi ingin memiliki sumber penghasilan lain di luar gaji bulanan.

Bagi Meidi, hidroponik juga menjadi ruang relaksasi untuk mengelola tekanan dan rutinitas pekerjaan di laboratorium. Ia tidak mengklaim green house miliknya bisa menyelesaikan persoalan lingkungan di kawasan industri nikel tersebut.

"Saya berharap hidroponik ini bisa menyumbangkan sedikit oksigen di kawasan industri IMIP, khususnya Bahodopi," ujarnya.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: dteksinews.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top