Kekeringan Ancam Sawah di Sigi, Debit Sungai Wuno Menurun Drastis dan 40 Hektare Terancam Gagal Panen

Penulis: Oki Setiawan  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 21:41:01 WIB
Petugas memeriksa kondisi sawah yang terancam gagal panen akibat kekeringan di Desa Bora, Kecamatan Sigi Kota, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Kekeringan akibat fenomena El Nino mulai melumpuhkan lahan pertanian di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Sigi mencatat sedikitnya 30 hingga 40 hektare sawah di Kecamatan Sigi Kota terancam gagal panen karena debit air Sungai Wuno yang menyuplai irigasi mengalami penurunan signifikan.

SIGI — Lahan pertanian padi sawah di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mulai merasakan dampak buruk cuaca panas ekstrem. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi mencatat puluhan hektare tanaman padi terancam puso atau gagal panen akibat kekeringan yang dipicu fenomena El Nino.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Sigi, Afit Lamakarate, menyebutkan data terbaru yang masuk baru mencakup wilayah Kecamatan Sigi Kota. "Berdasarkan laporan, hingga saat ini baru masuk data dari Kecamatan Sigi Kota yakni 30 sampai 40 hektare lahan padi sawah masyarakat terdampak kekeringan," ujarnya di Bora, Senin.

Sungai Wuno Kering, Sawah di 3 Desa Jadi Korban

Wilayah pertanian yang paling terdampak umumnya berada di luar cakupan irigasi teknis. Area ini sangat bergantung pada sungai-sungai pendukung seperti Sungai Wuno yang debitnya kini menyusut drastis.

Penurunan debit air itu mengancam areal persawahan di sejumlah desa. Beberapa di antaranya adalah Desa Oloboju, Desa Bora, dan sebagian wilayah Desa Watonunju yang selama ini mengandalkan aliran sungai tersebut untuk mengairi sawah mereka.

Karakter Tanah Aluvial: Cepat Serap, Cepat Kering

Afit menjelaskan, kondisi ini diperparah oleh karakteristik tanah di Sigi yang mayoritas merupakan tanah aluvial. Jenis tanah ini memiliki sifat yang mudah menyerap air saat hujan turun.

Namun di sisi lain, air sangat cepat menguap dan meresap habis ketika panas terik matahari melanda. "Karakter tanah ini sangat mudah menyerap air saat hujan, namun di sisi lain air sangat cepat menguap dan meresap habis ketika terjadi panas terik matahari yang ekstrem seperti saat ini," terangnya.

Antisipasi Pemkab: 80 Titik Irigasi Perpipaan Disetujui

Untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, Pemkab Sigi telah menyiapkan langkah strategis. Pembangunan irigasi perpipaan menjadi solusi utama yang diusulkan melalui Kementerian Pertanian dan Balai Wilayah Sungai Sulawesi III.

"Sudah ada sekitar 80 titik disetujui untuk pembangunan irigasi perpipaan tahun ini dan dilanjutkan tahun 2027," kata Afit. Proyek ini diharapkan mampu menjangkau area persawahan yang selama ini tidak terlayani irigasi teknis.

Pihaknya juga meminta seluruh petugas lapangan termasuk Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di masing-masing wilayah untuk segera melaporkan dan memperbarui data luasan lahan terdampak. "Untuk wilayah 15 kecamatan lainnya belum masuk laporan detailnya dan melalui update data ini guna memastikan langkah penanganan tepat sasaran," ujarnya.

Sebagai gambaran, luas lahan pertanian dan hasil validasi Luas Baku Sawah (LBS) di Sigi hingga Desember 2024 mencapai 15.280 hektare. Dengan luas tersebut, potensi perluasan kekeringan masih sangat mungkin terjadi jika cuaca ekstrem terus berlanjut.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: sulteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top