SULAWESI TENGAH — Sebelum beralih pengelolaan, Rumah BUMN Gunungkidul di bawah PLN UID Jawa Tengah mencatat sejumlah pencapaian signifikan. Berdasarkan pengukuran lembaga independen, nilai dampak sosial program pembinaan UMKM mencapai enam kali lipat dibandingkan investasi sosial yang digelontorkan.
Direktur Rumah BUMN Gunungkidul, Edhy Surbakti, menyebut keberhasilan ini berkat sinergi berbagai pihak. “Fokus utama kami adalah menghadirkan dampak sosial yang nyata. Hasilnya terlihat dari peningkatan produksi dan penjualan. Bahkan, produk binaan telah dipercaya bekerja sama dengan salah satu jaringan hotel terbesar di Indonesia,” ujarnya.
Memasuki era kepengelolaan PLN UID Yogyakarta, program pembinaan tidak hanya dilanjutkan tetapi juga diperkuat. Senior Manager Non Teknik PLN UID Yogyakarta, Deny Setiawan, menyatakan optimisme bahwa Rumah BUMN Gunungkidul bisa menjadi inkubator UMKM terbaik di Yogyakarta.
“Kami berkomitmen memperkuat supervisi dan memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah, sektor swasta, hingga industri perhotelan. Tujuannya agar UMKM memiliki peluang pasar yang lebih luas, tidak hanya di Gunungkidul tetapi juga di tingkat regional dan nasional,” kata Deny.
Tiga program utama akan menjadi prioritas ke depan. Pertama, percepatan transformasi digital bagi pelaku UMKM agar adaptif terhadap teknologi. Kedua, pendampingan ekspor bagi UMKM yang siap menembus pasar global. Ketiga, penguatan UMKM sektor fashion berbasis budaya lokal seperti batik dan kain tradisional.
Peralihan pengelolaan ini diharapkan semakin mengintegrasikan Rumah BUMN Gunungkidul dengan ekosistem ekonomi Yogyakarta. Melalui kolaborasi yang lebih erat dengan PLN UID Yogyakarta, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan, pusat pemberdayaan UMKM ini ditargetkan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi lokal.
PLN optimistis estafet program yang sudah berjalan baik akan terus berlanjut, bahkan menghasilkan dampak berkelanjutan bagi masyarakat Gunungkidul dan sekitarnya.