SULAWESI TENGAH — Total 24 pertandingan fase grup Piala Dunia 2026 telah usai. Dari 75 gol yang tercipta, Jerman mencatat kemenangan paling telak saat membantai Curacao 7-1. Namun dari sisi statistik individu, ada cerita menarik soal efektivitas penyelesaian akhir.
Gelandang Turki, Arda Guler, menjadi pemain paling produktif dalam melepas tembakan. Ia melepaskan delapan percobaan sepanjang matchday pertama. Ironisnya, belum satu pun gol lahir dari kaki pemain berusia 20 tahun itu.
Harry Kane menguntit di posisi kedua dengan tujuh tembakan. Kapten Inggris itu jauh lebih klinis: dua gol ia cetak, membantu The Three Lions menaklukkan Kroasia 4-2.
Lionel Messi menempati peringkat ketiga dengan enam tembakan. Tapi rasio gol per tembakan miliknya paling mentereng. Legenda Argentina itu mengemas tiga gol—setengah dari total percobaannya berbuah angka—dan memastikan kemenangan 3-0 atas lawannya.
Efektivitas Messi menjadi pembeda. Sementara pemain lain membuang banyak peluang, ia justru jadi mesin gol paling efisien di fase grup sejauh ini.
Selain Messi, tiga pemain lain juga mencatatkan enam tembakan. Son Heung-min (Korea Selatan), Dan Ndoye (Swiss), dan Kenan Yildiz (Turki) sama-sama belum mencetak gol dari jumlah percobaan tersebut.
Artinya, dari enam pemain yang paling sering melepas tembakan, hanya Kane dan Messi yang berhasil memanfaatkan peluang menjadi gol. Sisanya masih nihil.
Data ini menegaskan satu hal: rajin nembak belum tentu produktif. Arda Guler dan Kenan Yildiz jadi contoh nyata. Dua pemain Turki itu total melepas 14 tembakan, tapi tak satu pun masuk ke gawang lawan.
Sebaliknya, Messi membuktikan bahwa kualitas penyelesaian jauh lebih penting. Dengan setengah tembakan Guler, ia sudah mencetak tiga kali lipat gol.