SULAWESI TENGAH — Skotlandia akan menghadapi Haiti di Boston pada Sabtu (8/6) dalam laga uji coba yang menjadi persiapan terakhir mereka sebelum tampil di Piala Dunia 2026. Pertandingan ini menjadi momen bersejarah karena merupakan partai Piala Dunia pertama Skotlandia sejak 1998.
Robertson, yang kini berusia 32 tahun, mengatakan ide permainan itu lahir dari kebutuhan untuk menjaga moral tim selama masa karantina yang panjang. "Kami bisa menghabiskan banyak waktu di kamar atau sendirian. Tidak mudah jauh dari keluarga dan anak-anak," ujarnya.
Ia menambahkan, "Ini adalah cara untuk mengajak orang keluar dari kamar, memberi suara kepada pemain yang lebih pendiam, dan juga kepada pemain baru. Apakah berhasil atau tidak, saya tidak yakin, tapi kami pasti menikmatinya."
Permainan yang mirip dengan konsep serial realitas populer itu dijalankan pekan lalu dan menjadi kegiatan utama setelah sesi latihan selesai. Robertson mengakui metode ini membantu mempercepat waktu selama dua minggu persiapan yang terasa panjang.
Kabar baik datang dari lini tengah. Scott McTominay dinyatakan fit setelah sebelumnya absen latihan karena gangguan perut pada Kamis. Gelandang Napoli itu sudah kembali berlatih pada Jumat dan dipastikan dalam kondisi prima.
Pelatih Steve Clarke enggan membebani McTominay dengan status pemain kunci. "Saya punya 26 superstar di sini. Menaruh semua beban pada satu orang tidak adil. Selama tujuh tahun terakhir, semua tentang skuad, tim, kebersamaan," tegas Clarke.
Meski Haiti berada di peringkat 83 dunia, Clarke meminta anak asuhnya tidak meremehkan lawan. "Kami telah mengamati Haiti dengan sangat ketat selama enam bulan terakhir sejak undian. Mereka punya pemain-pemain dinamis, terutama di lini serang," kata pelatih berusia 62 tahun itu.
Skotlandia datang ke turnamen ini dengan modal kebersamaan yang kuat. Metode Traitors ala Robertson hanyalah satu dari sekian cara yang mereka tempuh untuk memastikan tim tetap solid saat melangkah ke panggung terbesar sepak bola dunia.