PALU — Belasan atlet dari berbagai klub di bawah naungan PABKI Sulawesi Tengah ambil bagian dalam turnamen internal lempar pisau dan kapak. Arena di Pantai Uwe Gusu menjadi saksi bagaimana konsentrasi dan ketepatan menjadi kunci utama, bukan sekadar kekuatan fisik.
Bagi masyarakat awam, melempar bilah tajam ke sasaran mungkin terlihat berbahaya. Namun, Ketua PABKI Sulawesi Tengah, Andi Baso, menegaskan bahwa esensi dari olahraga ini justru pembinaan mental. "Kami tidak hanya melatih fisik, tapi juga konsentrasi dan pengendalian diri. Itu yang membuat olahraga ini unik," ujarnya.
Setiap peserta harus mampu mengatur ritme napas dan fokus dalam hitungan detik. Kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal, sehingga tekanan mental yang dihadapi sangat tinggi.
Turnamen ini digelar untuk menjaring bibit atlet potensial sekaligus mempopulerkan olahraga lempar pisau dan kapak di Sulawesi Tengah. Selama ini, cabang olahraga tersebut masih kurang dikenal dibandingkan bela diri atau barongsai yang lebih mainstream.
Andi Baso menambahkan bahwa pihaknya berencana mengadakan kompetisi serupa secara rutin. "Kami ingin membuktikan bahwa olahraga ini memiliki nilai seni dan sportivitas yang tinggi," katanya.
Dengan adanya turnamen internal ini, PABKI Sulawesi Tengah berharap dapat mencetak atlet yang siap berlaga di tingkat nasional. Para peserta yang menunjukkan performa terbaik akan diseleksi untuk mengikuti pelatihan lanjutan.
Kawasan Uwe Gusu yang memiliki pemandangan laut lepas dipilih sebagai lokasi untuk memberikan suasana baru bagi para atlet. "Lingkungan yang tenang membantu peserta lebih mudah berkonsentrasi," jelas Andi Baso.
Ke depan, PABKI juga akan menggandeng Dinas Pemuda dan Olahraga setempat untuk mengembangkan fasilitas latihan yang lebih representatif. Langkah ini diharapkan bisa mendongkrak prestasi atlet lempar pisau dan kapak asal Sulawesi Tengah di kancah nasional.