PALU — Akses permodalan tanpa jaminan fisik menjadi pintu masuk bagi puluhan pelaku usaha mikro di Sulawesi Tengah untuk memperbesar skala bisnis. Permodalan Nasional Madani (PNM) mencatat, pinjaman yang awalnya hanya Rp3 juta per nasabah kini mampu tumbuh hingga Rp25 juta.
Nasabah PNM di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah mengaku tidak perlu menyertakan sertifikat rumah atau BPKB kendaraan saat mengajukan pinjaman. Cukup dengan membentuk kelompok dan mengikuti pendampingan rutin, mereka bisa mengakses modal bergulir dengan bunga ringan.
“Dulu saya hanya jualan gorengan modal Rp3 juta. Sekarang sudah bisa buka warung makan dengan omzet Rp25 juta,” ujar salah satu nasabah, Selasa pekan lalu.
PNM menerapkan sistem pinjaman bertahap. Nasabah baru memulai dengan plafon kecil, biasanya Rp3 juta. Setelah cicilan berjalan lancar selama beberapa siklus, limit dinaikkan bertahap hingga Rp25 juta.
Setiap kelompok terdiri dari 10 hingga 15 orang yang saling mengawasi pembayaran angsuran. Pertemuan mingguan digelar untuk setor cicilan sekaligus mendapat pelatihan pencatatan keuangan dan strategi pemasaran.
Kepala Cabang PNM Sulawesi Tengah menambahkan, program ini menyasar pelaku usaha di pasar tradisional dan ibu rumah tangga di kampung. “Modal tanpa jaminan ini membuat mereka berani menambah stok barang dan memperbaiki tempat usaha,” katanya.
Beberapa nasabah di Kota Palu dan Kabupaten Donggala bahkan mulai mempekerjakan tetangga setelah omzet naik. Perputaran uang di tingkat lokal pun ikut terpacu.
PNM berencana memperluas jangkauan ke daerah terpencil di Sulawesi Tengah, seperti Banggai Kepulauan dan Tojo Una-Una. Targetnya, 500 nasabah baru bisa mengakses pinjaman tanpa agunan hingga akhir tahun ini.
Persyaratan utama tetap sama: warga negara Indonesia, memiliki usaha mikro minimal enam bulan, dan tergabung dalam kelompok yang telah mengikuti pendampingan awal.