Kamera dengan kemampuan zoom optik 10x selama beberapa generasi menjadi identitas ponsel flagship Samsung, khususnya di lini Galaxy S Ultra. Fitur ini memungkinkan pengguna mengambil foto objek jauh dengan detail yang impresif, sesuatu yang jarang ditawarkan kompetitor. Namun, lini terbaru Samsung justru menghilangkan lensa tersebut.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Samsung menilai bahwa meskipun zoom 10x memberikan keunggulan di skenario tertentu, peningkatan kualitas foto secara keseluruhan—terutama di malam hari—memberikan dampak yang lebih luas bagi pengalaman pengguna sehari-hari. Fokus kini bergeser ke sensor yang lebih besar, algoritma pemrosesan gambar yang lebih cerdas, dan kemampuan menangkap cahaya yang lebih baik.
Dalam fotografi ponsel, low-light photography adalah medan pertempuran utama. Bagi pengguna di Indonesia, yang seringkali mengabadikan momen di kondisi pencahayaan tidak ideal—mulai dari pesta pernikahan, nongkrong malam hari, hingga street photography—kualitas foto buram dan penuh noise adalah masalah yang lebih sering dihadapi ketimbang kebutuhan zoom ekstrem.
Samsung tampaknya membaca tren ini. Alih-alih mempertahankan lensa telefoto khusus yang memakan ruang fisik besar di dalam bodi ponsel, perusahaan memilih mengalokasikan sumber daya untuk meningkatkan kualitas sensor utama dan lensa ultrawide. Hasilnya adalah peningkatan signifikan pada dynamic range, ketajaman, dan reproduksi warna di kondisi minim cahaya.
Meski terdengar masuk akal, keputusan ini tetap menjadi trade-off. Pengguna yang terbiasa memotret konser dari tribun atas atau mengambil detail arsitektur gedung dari kejauhan akan kehilangan jangkauan zoom optik murni. Samsung mengandalkan kombinasi sensor resolusi tinggi dan cropping digital (in-sensor zoom) untuk menutupi celah ini, namun kualitasnya tetap tidak akan menyamai lensa optik 10x asli.
Pertanyaannya, apakah mayoritas pengguna akan merasakan kehilangan ini? Data internal Samsung menunjukkan bahwa sebagian besar foto diambil pada rentang 1x hingga 3x zoom. Penggunaan zoom 10x atau lebih, meskipun spektakuler untuk demo produk, relatif jarang dalam penggunaan harian. Oleh karena itu, pengorbanan ini dianggap sebagai langkah pragmatis untuk memuaskan lebih banyak orang.
Keputusan Samsung ini menjadi sinyal penting bagi pasar ponsel tanah air. Selama bertahun-tahun, spesifikasi kamera—terutama jumlah megapiksel dan kemampuan zoom—menjadi senjata utama pemasaran. Kini, pabrikan mulai menyadari bahwa pengalaman fotografi yang konsisten di semua kondisi lebih bernilai dibandingkan satu fitur unggulan yang jarang dipakai.
Bagi konsumen Indonesia, ini berarti saatnya melihat spesifikasi kamera secara lebih holistik. Jangan terpukau pada satu angka besar di brosur. Perhatikan kualitas sensor, ukuran aperture, dan kemampuan pemrosesan gambarnya. Sebuah ponsel yang mampu menghasilkan foto jernih di kafe remang-remang mungkin lebih berguna daripada ponsel yang bisa memotret bulan namun blur saat dipakai di dalam ruangan.
Samsung belum mengonfirmasi apakah perubahan filosofi kamera ini akan menjadi standar untuk seluruh lini flagship ke depannya. Namun, satu hal yang jelas: era perlombaan jarak zoom optik semata tampaknya akan segera berakhir, digantikan oleh perlombaan kualitas gambar di segala kondisi pencahayaan.