FKUB dan Bamag Sulteng Bagikan 10.000 Paket Makanan di Palu, Wujud Nyata Harmoni Lintas Agama di Tengah Kota

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Minggu, 31 Mei 2026 | 23:38:01 WIB
FKUB dan Bamag Sulteng membagikan 10.000 paket makanan kepada warga Kota Palu secara gotong royong.

PALU — Sebanyak 10.000 paket makanan dibagikan secara serentak kepada warga di berbagai titik Kota Palu. Kegiatan ini digagas oleh FKUB dan Bamag Sulawesi Tengah sebagai bentuk kepedulian sosial yang merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang keyakinan.

Bukan Sekadar Bagi-bagi, Ada Pesan Kerukunan di Dalamnya

Pembagian paket makanan ini bukanlah acara seremonial belaka. Lebih dari itu, aksi ini dirancang untuk memperkuat simpul-simpul toleransi yang sudah lama terbangun di Palu. Relawan dari berbagai komunitas agama turun langsung ke lapangan, mendistribusikan bantuan ke kampung-kampung dan kelurahan.

Mereka bergerak dengan satu semangat: membantu sesama tanpa sekat. Warga penerima manfaat pun tidak dibedakan. Semua berhak mendapatkannya, asalkan membutuhkan.

Apa yang Membuat Aksi Ini Berbeda?

Yang menarik, proses distribusi dilakukan secara gotong royong. Pemuda masjid, pemuda gereja, dan relawan dari vihara bekerja bersama. Mereka menyusun paket, mengecek kelengkapan, lalu mengantarkannya ke rumah-rumah warga yang telah didata sebelumnya.

Pihak FKUB menyebut bahwa kegiatan ini adalah respons atas kebutuhan warga yang masih terdampak kondisi ekonomi pasca-pandemi dan bencana. Bantuan ini diharapkan bisa meringankan beban harian, terutama bagi pekerja informal dan lansia.

Dari Palu untuk Indonesia: Teladan Toleransi yang Hidup

Palu sendiri dikenal sebagai kota yang plural. Meski pernah diguncang konflik horizontal di masa lalu, kini warganya justru menunjukkan kedewasaan dalam beragama. Aksi FKUB dan Bamag ini menjadi salah satu indikator bahwa kerukunan bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata.

Mereka berharap kegiatan serupa bisa terus berlanjut dan diadopsi oleh daerah lain di Sulawesi Tengah. Sebab, menurut mereka, berbagi makanan adalah bahasa universal yang tidak memerlukan penerjemah. Siapa pun bisa memahaminya.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: radarpalu.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top