SULAWESI TENGAH — Manajemen BRI menyatakan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) dan likuiditas berada di atas threshold regulator. Kondisi ini dinilai penting di tengah tren suku bunga tinggi yang masih membayangi perbankan nasional. Dengan modal yang kuat, BRI memiliki fleksibilitas untuk menyerap risiko kredit sekaligus mengembangkan bisnis baru.
Dengan permodalan yang solid, BRI diproyeksikan masih memiliki ruang untuk menyalurkan kredit baru tanpa harus melakukan rights issue dalam waktu dekat. Hal ini menjadi kabar baik bagi pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung bisnis perseroan. Bank berkode emiten BBRI ini juga dinilai mampu menjaga margin bunga bersih (NIM) tetap kompetitif.
Direktur Utama BRI sebelumnya menekankan bahwa pihaknya akan fokus pada pertumbuhan kredit berkualitas. Strategi ini diambil untuk mengimbangi potensi kenaikan biaya dana (cost of fund) akibat suku bunga acuan yang masih tinggi. "Kami akan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas," demikian salah satu penekanan dalam paparan publik perseroan.
Bagi nasabah, kondisi ini berarti layanan perbankan digital BRImo dan jaringan unit kerja tetap stabil tanpa gangguan likuiditas. Sementara bagi investor, rasio permodalan yang kuat menjadi sinyal bahwa BRI mampu membagikan dividen menarik tanpa mengorbankan ekspansi bisnis. Tahun lalu, BRI membukukan laba bersih di atas Rp 60 triliun, dan tren serupa diperkirakan berlanjut.
Analis mencatat bahwa likuiditas yang longgar juga memungkinkan BRI untuk menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) lebih kompetitif jika diperlukan. Hal ini sejalan dengan arahan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor riil.
Ke depan, BRI akan fokus pada optimalisasi biaya dana murah (CASA) dan pengelolaan aset produktif. Perseroan juga terus memperkuat ekosistem holding ultra mikro bersama Pegadaian dan PNM. Sinergi ini diyakini mampu memperluas basis nasabah sekaligus menjaga rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah.
Dengan kondisi likuiditas dan permodalan yang terjaga, BRI optimistis dapat mencapai target pertumbuhan kredit dua digit pada akhir tahun 2026. Posisi ini sekaligus memperkuat statusnya sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia dari sisi penyaluran kredit UMKM.