JAKARTA — Tekanan di pasar keuangan Indonesia kembali terasa pada awal pekan ini. IHSG langsung ambles 2,06 persen saat pembukaan, meninggalkan level psikologis 6.600 yang sempat bertahan di sesi sebelumnya. Kondisi ini menjadi sinyal waspada bagi investor ritel dan institusi yang mulai menghitung ulang portofolio mereka.
Koreksi IHSG sejalan dengan pergerakan negatif di sebagian besar bursa Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,02 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 1,06 persen, dan Straits Times Singapura terkoreksi 0,32 persen. Satu-satunya yang masih bertahan di zona hijau adalah indeks SSE Composite China yang naik tipis 0,06 persen.
Pada perdagangan preopening, IHSG sebenarnya sudah menunjukkan sinyal merah dengan turun 94,344 poin (1,40 persen) di level 6.628,976. Namun tekanan jual semakin deras begitu bel dibuka.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah pagi ini masih bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Mengutip data Bloomberg pada pukul 09.00 WIB, kurs rupiah berada di Rp 17.630 atau melemah 33,00 poin (0,19 persen) dari penutupan sebelumnya. Level ini menjadi yang terlemah dalam beberapa waktu terakhir dan mendekati titik terendah historis.
Pelemahan rupiah turut membebani sentimen investor di bursa saham. Sebab, tekanan pada nilai tukar biasanya mendorong aksi jual di pasar modal, terutama oleh investor asing yang khawatir terhadap risiko nilai tukar.
Dengan IHSG yang sudah kehilangan lebih dari 2 persen di awal perdagangan, pelaku pasar kini menanti apakah indeks bisa bangkit atau justru melanjutkan koreksi ke level 6.500-an. Sementara itu, pergerakan rupiah akan menjadi salah satu indikator kunci yang menentukan arah pasar dalam beberapa hari ke depan. Investor disarankan mencermati data ekonomi global dan kebijakan Bank Indonesia yang bisa menjadi katalis pembalikan arah.