Pencarian

CELIOS Sebut Ekonomi Sulteng Masih Bergantung Nikel, Pertanian Turun Drastis dalam Satu Dekade

Kamis, 01 Oktober 2026 • 07:28:02 WIB
CELIOS Sebut Ekonomi Sulteng Masih Bergantung Nikel, Pertanian Turun Drastis dalam Satu Dekade
Direktur Studi Sosio-Bioekonomi CELIOS Fiorentina Refani menyampaikan temuan mengenai struktur ekonomi Sulawesi Tengah dalam acara di Palu.

Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang mencapai 8,32 persen pada triwulan I 2026 masih bertumpu pada sektor pertambangan nikel. Direktur Studi Sosio-Bioekonomi CELIOS Fiorentina Refani menyatakan ketergantungan itu membuat perekonomian daerah rentan terhadap perubahan kebijakan dan harga komoditas global. CELIOS mendorong upaya pengurangan ketergantungan terhadap sektor ekstraktif di provinsi tersebut.

PALU — Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menyoroti struktur ekonomi Sulawesi Tengah yang semakin bertumpu pada pertambangan dan industri pengolahan berbasis nikel. Pertumbuhan ekonomi provinsi itu tercatat 8,32 persen pada triwulan I 2026, dengan industri pengolahan menjadi lapangan usaha bertumbuh paling tinggi, yakni 15,09 persen.

Direktur Studi Sosio-Bioekonomi CELIOS Fiorentina Refani menyampaikan temuan itu di Palu. Menurut dia, angka pertumbuhan yang tinggi belum cukup menggambarkan kualitas pembangunan daerah.

"Tingginya pertumbuhan ekonomi tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan pembangunan, jika struktur ekonomi daerah semakin bergantung pada sektor tertentu," kata Fiorentina.

Pertanian Sulawesi Tengah Turun dari 34,4 Persen ke 15,8 Persen

Fiorentina membandingkan struktur ekonomi Sulawesi Tengah pada 2014 dan 2024. Pada 2014, sektor pertanian masih berkontribusi sekitar 34,4 persen, sedangkan pertambangan dan industri pengolahan berada di kisaran 16 persen.

Sepuluh tahun kemudian, kontribusi pertanian turun menjadi sekitar 15,8 persen. Sebaliknya, pertambangan dan industri pengolahan nikel menguasai hampir 60 persen struktur ekonomi Sulawesi Tengah.

"Jadi, kita melihat ada pertanian yang turun drastis dan sektor ekstraktif naik secara drastis," ungkapnya.

Harga Nikel di Bawah Ambang Margin Produksi

Ketergantungan pada sektor ekstraktif membuat perekonomian daerah lebih mudah terpengaruh perubahan kebijakan dan harga komoditas global. Fiorentina mencontohkan kebijakan pembatasan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang berdampak terhadap aktivitas industri.

Harga nikel di pasar global turut memengaruhi industri. Fiorentina menyebut harga nikel pada awal September 2026 berada di sekitar 16.600 dolar AS per ton, sementara harga yang dinilai diperlukan untuk menjaga margin produksi berada di kisaran 17.000 dolar AS per ton.

"Karena sudah masuk ke pasar global, ada volatilitas harga. Kebijakan global dan implikasi ekonomi global akhirnya membuat harga nikel sangat tidak stabil," ujarnya.

Pertumbuhan Ekonomi Melambat Empat Tahun Berturut-turut

CELIOS juga menyoroti perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan yang sebelumnya mencapai 11,91 persen pada 2023 turun menjadi 9,89 persen pada 2024, lalu 8,47 persen pada 2025, dan 8,32 persen pada triwulan I 2026.

Fiorentina menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius. Ketergantungan terhadap sektor ekstraktif membuat perekonomian daerah lebih rentan saat kebijakan atau harga komoditas berubah.

CELIOS mendorong upaya mengurangi ketergantungan terhadap pertambangan dan industri pengolahan berbasis nikel. Sektor pertanian dan lapangan usaha lain dinilai perlu diperkuat agar struktur ekonomi Sulawesi Tengah lebih beragam.

Follow sultengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sulteng.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks