SULAWESI TENGAH — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Jabodetabek pada akhir pekan lalu merupakan hasil operasi modifikasi cuaca. Curah hujan tertinggi terpantau di Kabupaten Bogor dengan intensitas 65-100 mm per hari. Operasi digelar dari Posko Pondok Cabe dan Posko Husein Sastranegara untuk menambah pasokan air baku serta menjaga kualitas udara di Jakarta dan Jawa Barat.
Wilayah yang Diguyur Hujan
Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terpantau mengguyur wilayah DKI Jakarta, khususnya Jakarta Barat dan Jakarta Timur. Di Jawa Barat, hujan turut membasahi Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, hingga Kota Bandung.
Pemantauan BMKG pada Jumat (18/9) mencatat hujan ringan menyelimuti sejumlah titik di kedua provinsi tersebut. Kondisi serupa berlanjut hingga Minggu (20/9).
Curah Hujan Tertinggi di Depok
Dalam Ikhtisar Cuaca 20 September 2026, BMKG mencatat curah hujan paling tinggi terjadi di wilayah Pesangrahan, Depok, dengan angka 87 mm per hari. Angka itu melampaui sejumlah titik pantau lain di Jabodetabek.
Berikut rincian curah hujan di wilayah Jabodetabek pada Minggu (20/9):
- Pesangrahan, Depok: 87,0 mm
- Citayam: 67,0 mm
- Katulampa: 36,0 mm
- Balai II Ciputat: 34,7 mm
- AWS Leuwiliang Bogor: 23,8 mm
- ARG Ciganjur: 22,0 mm
- Krukut Hulu: 18,0 mm
- Stasiun Klimatologi Jawa Barat: 14,6 mm
- ARG Lebak Bulus: 12,8 mm
- Pompa Arcadia: 10,0 mm
Peran Operasi Modifikasi Cuaca
BMKG menyebut hujan ini sebagai hasil nyata dari ikhtiar bersama melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi tersebut dilaksanakan dari Posko Pondok Cabe dan Posko Husein Sastranegara.
"Kabar baik ini merupakan wujud nyata dari ikhtiar bersama melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilaksanakan dari Posko Pondok Cabe dan Posko Husein Sastranegara," tulis Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG dalam akun Instagramnya, Minggu (20/9).
Menurut BMKG, hujan yang mengguyur Jabodetabek berperan mendinginkan suhu, meningkatkan kelembapan, menjaga kualitas udara, serta membantu menambah ketersediaan pasokan air baku bagi masyarakat Jakarta dan Jawa Barat.
Mengapa Ini Penting
Wilayah Jabodetabek dan sekitarnya kerap menghadapi tekanan kualitas udara dan keterbatasan air baku, terutama pada musim kemarau. Kehadiran hujan hasil modifikasi cuaca menjadi salah satu instrumen yang dipakai BMKG untuk menjaga keseimbangan lingkungan di kawasan padat penduduk tersebut.
Pemantauan curah hujan di belasan titik, mulai dari Katulampa hingga Lebak Bulus, juga menjadi acuan untuk memantau potensi dampak lanjutan seperti debit sungai dan pasokan air ke waduk.