Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.137 per Dolar AS, Harga Minyak dan Defisit APBN Jadi Tekanan

Penulis: Lukman Hakim  •  Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:19:31 WIB
Rupiah dibuka melemah tipis ke Rp18.137 per dolar AS pada perdagangan Selasa (27/10/2026).

SULAWESI TENGAH — Rupiah dibuka melemah tipis 0,01% ke Rp18.137 per dolar AS pada perdagangan Selasa (27/10/2026), melanjutkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.135. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif hari ini dan ditutup melemah di rentang Rp18.130-Rp18.180. Tekanan datang dari kenaikan harga minyak global yang berpotensi memperlebar defisit APBN.

Pelemahan tipis rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran fiskal. Indonesia berstatus importir neto minyak, sehingga kenaikan harga minyak global langsung menambah beban biaya impor, subsidi energi, dan kompensasi kepada Pertamina.

Ibrahim menilai penerimaan negara dari sektor migas tidak cukup menutup lonjakan belanja energi. Kondisi makin berat karena harga BBM domestik dipertahankan demi menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi.

Tiga Asumsi Makro yang Paling Sensitif ke Defisit APBN

Merujuk sensitivitas APBN 2026, ada tiga asumsi makro yang rawan memperlebar defisit. Kenaikan yield SBN dan depresiasi rupiah masuk daftar itu, bersama lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP).

  • Yield SBN: setiap kenaikan 0,1% memperlebar defisit Rp1,9 triliun
  • Kurs rupiah: depresiasi Rp100 per dolar AS menambah defisit Rp800 miliar
  • ICP: setiap kenaikan US$1 per barel memperlebar defisit hingga Rp6,8 triliun

Asumsi ICP sampai akhir September 2026 sudah meleset jauh dari target APBN sebesar US$70 per barel menjadi US$91,9 per barel. Selisih ini membuat ruang fiskal pemerintah makin sempit.

Subsidi dan Kompensasi Energi Naik 54,1%

Tekanan fiskal terlihat dari realisasi belanja subsidi dan kompensasi per 30 September 2026 yang mencapai Rp376,8 triliun. Angka itu naik 54,1% dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year).

Depresiasi rupiah belakangan makin dalam, terutama setelah pengumuman MSCI. Kombinasi kurs lemah dan harga minyak tinggi membuat biaya impor energi membengkak, sementara kas negara terus tergerus.

"Dengan demikian, persistensi harga minyak yang tinggi dapat mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko terhadap pencapaian target defisit APBN," kata Ibrahim kepada wartawan.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Usaha

Bagi investor obligasi, kenaikan yield SBN yang menyertai pelemahan rupiah perlu dicermati karena berdampak langsung ke biaya utang pemerintah. Di pasar saham, sektor yang bergantung pada impor energi dan bahan baku berpotensi menanggung beban biaya lebih besar.

Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp17.900-Rp18.250 sepanjang pekan ini. Pergerakan harian diprediksi fluktuatif dengan kecenderungan melemah selama harga minyak bertahan tinggi.

Pelaku usaha yang punya eksposur dolar AS disarankan mencermati jadwal kebutuhan valas. Sementara importir energi menghadapi risiko kenaikan biaya jika ICP tidak turun mendekati asumsi APBN.

Reporter: Lukman Hakim
Sumber: wartaekonomi.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top