Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 72 poin atau 0,40 persen ke level Rp17.966 per dolar AS pada perdagangan Kamis, dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.894. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyebut pelemahan dipicu pengumuman inflasi Indonesia September 2026 yang mencapai 3,28 persen secara tahunan. Posisi itu mendekati batas atas target Bank Indonesia 2,5 persen plus minus 1 persen.
JAKARTA — Pelemahan rupiah turut tercermin pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang bergerak ke level Rp17.937 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.877 per dolar AS. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026.
Secara tahun kalender (year-to-date/ytd), inflasi tercatat 2,17 persen. Adapun inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,30 persen.
Rully menyatakan inflasi September berada di level mendekati batas atas target BI. "Rupiah hari ini melemah dipengaruhi oleh domestik pengumuman inflasi September yang mencapai 3,28 persen level mendekati batas atas target BI (Bank Indonesia) 2,5 persen plus minus 1 persen," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Dari sisi global, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sudah menyentuh 5,3 persen. Pemicunya kekhawatiran kenaikan bunga Federal Reserve (The Fed) bulan ini.
"Survei menunjukkan 36 persen yakin ada dua kali kenaikan lagi sampai dengan akhir tahun, kenaikan masing-masing 25 bps (basis points). Yield obligasi pemerintah AS berpotensi naik lagi selain expectations kenaikan bunga juga karena pertumbuhan ekonomi AS masih kuat," ucap Rully.
Kombinasi tekanan domestik dan eksternal menempatkan rupiah pada posisi yang rentan dalam jangka pendek. Pelaku pasar mencermati arah kebijakan The Fed sekaligus respons Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar.