SULAWESI TENGAH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Jumat (25/9/2026) di zona hijau dengan kenaikan 16,92 poin atau 0,27% ke level 6.315. Penguatan ini terjadi meski tekanan jual masih membayangi pasar akibat kekhawatiran inflasi global dan sikap hawkish Federal Reserve. Sebanyak 234 saham menguat, melampaui 229 saham yang melemah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) usai lima menit perdagangan berlangsung, volume transaksi tercatat 2,32 miliar saham dengan nilai Rp489 miliar. Frekuensi perdagangan mencapai 104.055 kali, sementara 207 saham stagnan di posisi sebelumnya.
Kenaikan IHSG di awal sesi ini berbanding terbalik dengan peringatan BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) yang menilai indeks masih dihantui tekanan jual. Pemicunya adalah meningkatnya kekhawatiran inflasi global yang dipicu tekanan eksternal.
BRIDS mencatat sentimen global masih cenderung hawkish, tercermin dari kenaikan US Treasury 10 tahun yang mencapai 5,11%. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2007, seiring kuatnya aktivitas ekonomi Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve.
Kondisi ini membuat investor asing cenderung berhati-hati terhadap pasar emerging markets, termasuk Indonesia. Tekanan pada obligasi pemerintah AS biasanya berdampak pada aliran modal keluar dari negara berkembang.
Secara teknikal, BRIDS memproyeksikan IHSG berpotensi menguji support di 6.200–6.220. Proyeksi ini muncul setelah indeks kembali ditutup di bawah level 6.300 pada sesi sebelumnya.
Indikator MACD saat ini memberikan sinyal bearish dengan resistance terdekat berada di 6.400–6.450. Artinya, ruang kenaikan IHSG masih terbatas selama belum mampu menembus level tersebut.
Meski sentimen eksternal negatif, pelaku pasar domestik masih menempatkan dana di saham-saham tertentu. Rasio saham menguat terhadap yang melemah yang tipis (234 berbanding 229) menunjukkan pasar belum sepenuhnya pesimistis.
Nilai transaksi Rp489 miliar dalam lima menit pertama tergolong moderat. Investor tampaknya menunggu data ekonomi lanjutan dan arah kebijakan The Fed sebelum mengambil posisi lebih besar.
Bagi investor ritel, level 6.200 menjadi titik krusial yang perlu dipantau. Jika support ini jebol, tekanan jual berpotensi berlanjut ke level yang lebih rendah. Sebaliknya, penembusan resistance 6.450 bisa membuka ruang pemulihan lebih lanjut.