SULAWESI TENGAH — Kementerian Kesehatan mencatat proporsi spesimen positif influenza melonjak jadi 51 persen pada Minggu ke-36 2026, naik dari 37 persen pekan sebelumnya. Dari data itu, balita jadi kelompok paling banyak terdampak dengan proporsi 41,9 persen. Berikut rincian datanya dan langkah yang perlu ibu lakukan di rumah.
Data ini disampaikan Kemenkes kepada iNews Media Group pada Selasa (20/9/2026). Bagi ibu yang punya anak balita, angka ini penting dicermati karena kelompok usia balita menempati proporsi terbesar kasus.
Dari seluruh temuan kasus, balita menyumbang proporsi 41,9 persen. Artinya, hampir separuh kasus influenza yang terdeteksi menyerang anak usia di bawah lima tahun.
Ini masuk akal karena sistem imun balita belum matang sempurna. Anak juga lebih sering menyentuh wajah dan benda di sekitarnya, sehingga penularan lewat droplet dan kontak lebih mudah terjadi.
Jawa Timur mencatat temuan kasus influenza terbanyak. Setelahnya menyusul Jawa Tengah dan Jawa Barat di posisi berikutnya.
Kalau ibu tinggal di ketiga provinsi tersebut, ada baiknya lebih waspada dengan kebersihan rumah dan aktivitas anak di luar. Terutama saat musim pancaroba atau ketika banyak orang batuk dan pilek di sekitar.
Influenza A (H1N1pdm09) umumnya muncul dengan demam tinggi mendadak, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan. Anak juga bisa terlihat lemas, tidak mau makan, atau rewel tanpa sebab jelas.
Pada balita, gejala kadang tidak khas. Mereka bisa hanya tampak lesu, susah tidur, atau menolak menyusu. Kalau muncul tanda seperti ini di tengah kenaikan kasus, jangan tunda untuk memeriksakan anak.
Cuci tangan pakai sabun jadi cara paling sederhana yang terbukti efektif. Ajarkan anak untuk melakukannya sebelum makan dan setelah bermain di luar.
Pastikan ventilasi rumah tetap baik dan hindari membawa balita ke tempat ramai saat sedang banyak orang sakit. Kalau ada anggota keluarga yang batuk atau pilek, gunakan masker dan pisahkan alat makannya.
Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika demamnya tidak turun setelah dua hari, napas terlihat cepat atau sesak, anak sangat lemas, atau tidak mau minum sama sekali. Tanda dehidrasi seperti mulut kering dan jarang pipis juga perlu diwaspadai.
Untuk anak dengan kondisi kronis seperti asma atau penyakit jantung bawaan, konsultasi lebih cepat lebih baik. Kelompok ini lebih rentan mengalami komplikasi jika terinfeksi influenza.
Kenaikan 51 persen ini bukan alasan untuk panik berlebihan. Yang penting, ibu tahu data terbarunya, kenali gejalanya pada balita, dan siapkan langkah pencegahan sederhana di rumah mulai hari ini.