Pemkab Sigi Latih 64 Pendamping Korban Kekerasan, Perkuat Layanan Perempuan dan Anak Lintas Sektor

Penulis: Lukman Hakim  •  Selasa, 22 September 2026 | 10:05:01 WIB
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Sigi, Sutopo Sapto Condro, menyampaikan arahan dalam pelatihan pendamping korban kekerasan.

Pemerintah Kabupaten Sigi memperkuat sinergi lintas sektor untuk menghadirkan pelayanan perlindungan perempuan dan anak yang lebih aman, responsif, dan berperspektif korban. Pelatihan trauma healing dan manajemen stres digelar bagi petugas layanan dari DP3A, Unit PPA Polres Sigi, tenaga medis RSUD Torabelo dan RSUD Kauria, petugas Puskesmas, hingga Satgas Desa Perlindungan Perempuan dan Anak. Penguatan sistem pelayanan tersebut menyusul 64 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditangani DP3A Sigi sepanjang 2025.

SIGI — Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Sigi, Sutopo Sapto Condro, menyatakan penguatan sistem pelayanan memerlukan dukungan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas, empati, serta ketangguhan emosional. Para petugas layanan disebutnya sebagai garda terdepan yang langsung berhadapan dengan persoalan berat di masyarakat.

Menurut Sutopo, pelatihan trauma healing dan manajemen stres bertujuan memberikan pembekalan mendalam terkait prinsip dasar penyembuhan trauma, dukungan psikososial, serta pengelolaan stres kerja. Dengan bekal itu, pendampingan kepada korban diharapkan berjalan optimal dan profesional.

64 Kasus Kekerasan Ditangani DP3A Sigi Sepanjang 2025

Data DP3A Kabupaten Sigi mencatat jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak yang sudah ditangani selama 2025 sebanyak 64 kasus. Angka itu menjadi dasar perlunya penguatan kapasitas petugas di lapangan.

Petugas yang menangani kasus kekerasan, konflik keluarga, maupun pengalaman traumatis menghadapi tekanan emosional berlapis. Tanpa kemampuan mengelola stres, kualitas pendampingan berisiko menurun.

Mengapa Petugas Pendamping Korban Rentan Alami Stres Kerja

Sutopo menuturkan, mendampingi korban bukan pekerjaan mudah. Petugas yang mampu mengelola stres dengan baik akan lebih siap memberikan pelayanan secara empati dan profesional tanpa terbawa beban emosional dari kasus yang ditangani.

"Pada intinya dalam mendampingi korban yang mengalami kekerasan, konflik keluarga, maupun pengalaman traumatis bukanlah pekerjaan yang mudah. Petugas yang mampu mengelola stres dengan baik akan lebih siap memberikan pelayanan secara empati dan profesional tanpa terbawa beban emosional dari kasus yang ditangani," sebutnya.

Budaya Saling Dukung Antarpetugas Jadi Kunci

Salah satu upaya perlindungan perempuan dan anak harus didukung budaya saling mendukung antarpetugas serta komunikasi solid lintas lembaga. Forum Anak Kabupaten Sigi disebut Sutopo turut dilibatkan secara aktif dalam upaya tersebut.

Ia berharap seluruh ilmu dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara berkelanjutan di lapangan serta disebarluaskan kepada rekan sejawat lainnya. Tujuannya mewujudkan lingkungan yang aman dan sejahtera di Kabupaten Sigi.

"Jadi pentingnya untuk memperkuat sistem pelayanan dan perlindungan bagi masyarakat, terutama bagi perempuan dan anak yang membutuhkan perhatian, pendampingan, dan perlindungan di Kabupaten Sigi," kata Sutopo.

Reporter: Lukman Hakim
Sumber: sulteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top