SULAWESI TENGAH — Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) menemui Kementerian Pariwisata RI di Jakarta untuk membahas penguatan Pariwisata Ramah Muslim sekaligus mendongkrak kunjungan wisatawan Arab Saudi ke Indonesia. Audiensi berlangsung di Kantor Kemenpar RI, Rabu (16/9/2026), dengan agenda utama menyusun strategi pasar Timur Tengah yang menyasar segmen premium. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Indonesia mengambil ceruk wisatawan Muslim mancanegara yang selama ini lebih banyak menuju negara lain.
HIMPUH mengirim enam wakil ketua umum dalam pertemuan tersebut, mencakup bidang Hubungan Kelembagaan, Organisasi, Umrah, Wisata Halal, Haji, dan Hukum. Dari pihak Kementerian Pariwisata hadir Asisten Deputi Pengembangan Produk Pariwisata, Itok Parikesit.
Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Kelembagaan HIMPUH, Unang Abdul Fatah, menyatakan kesiapan asosiasinya mendukung program Pariwisata Ramah Muslim yang dikembangkan Kemenpar. Menurut Unang, HIMPUH punya posisi strategis karena menaungi pelaku usaha perjalanan haji dan umrah yang selama ini berinteraksi intensif dengan berbagai pihak di Arab Saudi.
HIMPUH kini menaungi sekitar 477 perusahaan perjalanan. Jejaring itu dinilai bisa dimanfaatkan untuk membuka peluang lebih besar bagi wisatawan Arab Saudi dan pasar Timur Tengah. Unang menilai pengembangan inbound tourism juga menjadi ruang kontribusi yang relevan bagi HIMPUH.
"HIMPUH siap mendukung apa yang menjadi rencana Kementerian Pariwisata," ujar Unang.
Wakil Ketua Umum Bidang Wisata Halal HIMPUH, Riska Harry, menilai Indonesia bisa mempelajari strategi sejumlah negara dalam meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara. Kebijakan negara lain dapat menjadi referensi yang kemudian disesuaikan dengan karakter pariwisata Indonesia.
Riska mencontohkan China yang memberi fasilitas bebas visa bagi wisatawan dari sejumlah negara. Ia juga menyoroti pengembangan destinasi di Hainan dan kawasan lain di China yang didukung kebijakan serta strategi khusus.
Arab Saudi, menurut Riska, juga berhasil mengembangkan pariwisata lewat Visi Saudi 2030. Negara itu kini tidak hanya mempromosikan haji dan umrah, tetapi juga gencar memperkenalkan destinasi seperti Riyadh, Jeddah, Dammam, Abha, dan Al-Ula. Pola tersebut dinilai bisa menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam memasarkan destinasi kepada pasar Muslim mancanegara.
Wakil Ketua Umum Bidang Haji HIMPUH, Walied Jafar, menekankan pentingnya memahami karakter dan ekspektasi wisatawan Arab Saudi jika Indonesia ingin menggarap pasar tersebut secara serius. Berdasarkan pengalaman pelaku usaha perjalanan, wisatawan dari negara itu punya ekspektasi tinggi terhadap kualitas pelayanan.
Mereka cenderung menginginkan layanan dan fasilitas berstandar premium, mulai dari akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga pengalaman selama perjalanan. Karakter itu perlu menjadi perhatian dalam penyusunan produk wisata Indonesia untuk pasar Arab Saudi. Kondisi tersebut juga menjadi peluang karena ada segmen wisatawan dengan daya beli yang mendukung produk wisata berkualitas tinggi.
Walied menyampaikan satu peluang yang dapat dikaji untuk meningkatkan kunjungan wisatawan Arab Saudi, yakni melalui konektivitas penerbangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji. Penerbangan yang membawa jemaah haji Indonesia ke Arab Saudi, pada perjalanan tertentu, kembali ke Indonesia tanpa penumpang.
Potensi itu, menurut Walied, dapat dioptimalkan lewat skema kerja sama yang memungkinkan kapasitas penerbangan tersebut turut mendukung arus wisatawan dari Arab Saudi ke Indonesia.
"Ketika berangkat mengantarkan jemaah haji, mereka pulang dalam keadaan kosong. Ini bisa dimaksimalkan untuk menggaet wisatawan Arab Saudi dengan kerangka kerja sama yang mungkin lebih menarik," kata Walied.
Peluang tersebut didukung cakupan penerbangan haji Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah. Skema ini dinilai bisa menjadi jalur masuk alternatif bagi wisatawan Arab Saudi selain penerbangan komersial reguler.
Bagi pelaku industri pariwisata, audiensi ini menandai langkah awal penjajakan kerja sama antara asosiasi perjalanan haji dan umrah dengan Kemenpar. Detail teknis seperti skema penerbangan dan paket wisata masih akan dibahas lebih lanjut. Informasi terkini soal program Pariwisata Ramah Muslim dapat dikonfirmasi melalui Kementerian Pariwisata RI atau HIMPUH.