PALU — Forecaster BMKG Mutiara Sis Al Jufri Palu Fathan Labanu mengatakan hampir seluruh wilayah Sulawesi Tengah kini berada dalam kondisi udara kering. Hal itu menyusul masuknya musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga akhir 2026.
"Berdasarkan kondisi cuaca sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah berada pada kondisi di mana pertumbuhan awan tidak tumbuh begitu maksimal," kata Fathan, Selasa (11/8).
Berdasarkan analisis Fire Danger Rating System (FDRS), BMKG mencatat Fine Fuel Moisture Code (FFMC) atau tingkat kemudahan bahan bakar ringan terbakar berada di atas 82 di seluruh kabupaten dan kota. Angka itu menunjukkan alang-alang serta dedaunan di permukaan tanah dalam kondisi sangat kering dan mudah tersulut api.
Buol mencatat nilai FFMC tertinggi mencapai 92 pada 15 Agustus. Disusul Parigi Moutong, Poso, dan Banggai Laut yang masing-masing berada di angka 91.
BMKG juga memantau Fire Weather Index (FWI) yang menggambarkan potensi intensitas api apabila terjadi kebakaran. Nilai tertinggi tercatat di Banggai Laut dengan skor 30 dan Banggai Kepulauan 29.
Banggai menyusul dengan nilai FWI 24, lalu Buol dan Poso masing-masing 22. Tojo Una-Una berada di angka 21, Morowali 19, dan Tolitoli 17. Adapun Morowali Utara, Palu, Donggala, Parigi Moutong, serta Sigi tercatat paling rendah dengan skor 15.
Pantauan suhu di Kota Palu saat ini berkisar 22 derajat Celsius pada malam hari dan 36 derajat Celsius pada siang hari. Fathan menyebut angka tersebut masih dalam batas normal untuk wilayah Sulawesi Tengah yang sejak awal Juli hingga Agustus sudah memasuki musim kemarau.
"Untuk wilayah Sulawesi Tengah sejak awal Juli hingga Agustus sudah memasuki musim kemarau," ucap dia.
BMKG mengingatkan potensi karhutla di sejumlah wilayah Sulteng berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi selama periode 9-15 Agustus 2026. Masyarakat diminta tidak membakar lahan sembarangan, terutama di area dengan vegetasi kering yang mudah memicu api meluas.