SULAWESI TENGAH — Saya pernah jadi panitia acara tahunan All British Car Meet di Palo Alto, California. Waktu itu tahun 2006, dan acaranya santai — ratusan mobil klasik Inggris dari era 1920-an sampai modern berjejer di El Camino Park. Saya iseng mengundang Tesla karena Roadster-nya dibangun di atas sasis Lotus, jadi secara teknis masih ada darah Inggrisnya. Saya hubungi kepala pemasaran Tesla, Mike Harrigan, dan bilang: "Bawa mobil kalian ke sini, banyak orang Silicon Valley kaya yang suka mobil klasik, mungkin ada yang tertarik." Dia ragu, tapi akhirnya datang juga.
Sekitar pukul 09.30 pagi, saya lihat sebuah roadster dua kursi warna maroon melaju masuk. Saya bisa mengenali hampir semua mobil Inggris dari jarak 100 meter, tapi ini beda. Ternyata itu salah satu dari tiga Tesla Roadster yang ada di dunia saat itu. Harrigan datang bersama Diarmuid O'Connell, direktur pengembangan bisnis Tesla. Mereka langsung dikerumuni pengunjung yang penasaran.
Saya buat kesepakatan: "Kalau kalian berhasil menjual mobil di sini, saya boleh dapat tumpangan kan?" Mereka tertawa dan bilang iya. Setelah acara bubar, Harrigan datang dengan wajah agak terkejut. Ada pengunjung yang ngobrol lama dengannya, lalu balik lagi dan menyerahkan cek senilai USD 90.000 — sekitar Rp 1,4 miliar dengan kurs sekarang. Langsung jadi.
Ada satu masalah: Tesla harus segera kembali ke kantor pusatnya di San Carlos, 19 mil ke utara, dan baterainya cuma tersisa 14 persen. Harrigan memberi syarat: "Saya cuma bisa kasih satu kali akselerasi penuh, oke?" Saya mengangguk dan masuk ke kursi balap yang pas di badan.
Harrigan memutar kunci. Tidak ada suara mesin — hanya lampu panel menyala dan layar kecil hidup. Saat tuas digeser, mobil langsung meluncur. Bukan senyap total: ada dengung halus dari motor dan elektronika daya, ditambah bunyi angin yang dominan di atas 30 km/jam. Karena basisnya Lotus, Roadster ini juga berderit dan dashboard-nya bergetar di kecepatan tertentu. Tapi yang paling mengejutkan: saya bisa mendengar suara ban menyentuh aspal.
Di lampu merah, Harrigan menoleh. "Siap?" Saya mengangguk. Begitu lampu hijau, dia injak pedal penuh. Yang saya rasakan bukan seperti mobil bensin — ini dorongan halus tanpa jeda yang menekan punggung dan melemparkan tubuh ke jok. Dalam sekitar 5 detik, speedometer sudah menyentuh 120 km/jam. Begitu dia angkat pedal, pengereman regeneratif yang kuat menahan laju mobil dan sabuk pengaman menahan tubuh saya.
Saya tidak punya foto diri di dalam mobil itu. Tapi pengalaman itu mengubah arah karier saya. Setahun kemudian saya meliput industri hybrid sebagai jurnalis, lalu beralih penuh ke mobil listrik saat mereka mulai dijual massal pada 2010. Saya menghabiskan sembilan tahun memimpin Green Car Reports dan menerbitkan lebih dari 12.000 artikel tentang kendaraan rendah emisi.
Kalau saya lihat ke belakang, kemajuan teknisnya gila. Jarak tempuh, software, dan infrastruktur charging sekarang jauh melampaui apa pun yang bisa saya bayangkan tahun 2006. Roadster pertama itu membuktikan bahwa mobil listrik jarak jauh bukan sekadar mungkin — tapi bisa setara atau lebih baik dari mobil bensin. Enam tahun kemudian, Tesla Model S datang dan dunia mulai serius.
Bukan cuma nostalgia. Ada pelajaran yang relevan buat calon pembeli mobil listrik sekarang: pengalaman berkendara EV tidak bisa dijelaskan dari spek sheet. Torque instan, keheningan kabin, dan respons pedal yang langsung — semua itu harus dirasakan langsung. Tapi juga ada catatan jujur dari Roadster generasi pertama: build quality-nya masih kasar, ada derit di sana-sini, dan jangkauan baterainya sangat terbatas. Itu wajar untuk produk generasi awal.
Saya masih penasaran sampai sekarang: ke mana ya Roadster merah itu sekarang?