Review Avita Magus 2-in-1: Laptop Hybrid Rp2,6 Jutaan, Murah Tapi Ada Korbannya

Penulis: Lukman Hakim  •  Jumat, 31 Juli 2026 | 00:42:32 WIB
Avita Magus 2-in-1 dibekali prosesor Intel Celeron N4020, RAM 4GB, dan penyimpanan eMMC 192GB.

SULAWESI TENGAH — Avita kembali menggebrak pasar laptop Indonesia dengan Magus 2-in-1, sebuah perangkat hybrid yang bisa berubah jadi tablet dengan melepas keyboard. Harganya yang cuma Rp2,6 jutaan memang bikin melirik, apalagi buat pelajar atau mahasiswa yang butuh perangkat fleksibel. Tapi setelah kami bedah spesifikasinya, ada beberapa hal yang perlu kamu pertimbangkan sebelum mengeluarkan uang.

Konsep Detachable: Ringan Saat Jadi Tablet, Tapi Keyboard-nya Gimana?

Avita Magus 2-in-1 menggunakan mekanisme detachable, artinya keyboard bisa dilepas total. Bobot total perangkat adalah 1,41 kg, dan saat keyboard dilepas, bobotnya turun jadi 1,07 kg. Ini cukup ringan untuk ukuran tablet 11,6 inci, apalagi dengan layar sentuh.

Sayangnya, bahan tidak menyebutkan kualitas keyboard dan trackpad-nya. Pertanyaan besarnya: apakah keyboard ini nyaman dipakai mengetik lama, atau malah jadi beban karena flimsy? Ini penting karena pengalaman mengetik bisa bikin frustrasi kalau kualitasnya jelek.

Intel Celeron N4020: Cukup untuk Apa?

Avita Magus 2-in-1 varian ini dibekali prosesor Intel Celeron N4020 dengan grafis terintegrasi Intel HD Graphics 500. Ini adalah prosesor entry-level yang biasa dipakai di Chromebook murah. Performanya cukup untuk browsing, mengetik dokumen, dan streaming video. Tapi jangan harap bisa multitasking berat atau menjalankan aplikasi seperti Adobe Photoshop atau editing video.

RAM 4GB DDR4 dan penyimpanan 192GB eMMC juga jadi batasan. Sistem operasi Windows 11 sendiri sudah memakan hampir separuh kapasitas penyimpanan. Jadi, sisa ruang untuk aplikasi dan file sangat terbatas. eMMC juga lebih lambat dibandingkan SSD, jadi proses booting dan membuka aplikasi akan terasa lebih lama.

Layar 11,6 Inci TFT: Resolusi Oke, Tapi Panel TFT Kurang Terang

Layar berukuran 11,6 inci dengan resolusi 1920 x 1200 dan dukungan touchscreen sebenarnya cukup tajam untuk ukuran 11,6 inci. Namun, panel TFT (Twisted Nematic) biasanya memiliki sudut pandang sempit dan tingkat kecerahan yang lebih rendah dibandingkan IPS. Ini bisa jadi masalah saat dipakai di luar ruangan atau di bawah sinar matahari langsung.

Bagi mahasiswa yang sering kerja di kafe atau perpustakaan, layar TFT ini mungkin kurang nyaman. Tapi untuk pemakaian di dalam ruangan dengan pencahayaan terkontrol, masih oke.

Harga Rp2,6 Jutaan: Murah, Tapi Ada Kompetitor Lain?

Dengan harga Rp2,6 jutaan, Avita Magus 2-in-1 memang menjadi laptop hybrid termurah di pasaran. Tapi perlu diingat, di rentang harga yang sama, kamu bisa mendapatkan tablet Android atau iPad generasi sebelumnya dengan performa yang lebih baik untuk konsumsi konten. Atau, kamu bisa mencari laptop konvensional bekas dengan spesifikasi lebih tinggi.

Avita memberikan garansi resmi, yang menjadi nilai tambah. Tapi ketersediaan service center di Indonesia perlu dicek, karena Avita bukan merek sebesar ASUS atau Lenovo.

Kelebihan & Kekurangan Avita Magus 2-in-1

  • Kelebihan: Harga sangat terjangkau untuk laptop hybrid, bobot ringan saat mode tablet, layar sentuh resolusi tinggi, garansi resmi.
  • Kekurangan: Performa prosesor dan RAM sangat terbatas, penyimpanan eMMC lambat dan kecil, panel layar TFT kurang terang, kualitas keyboard belum teruji, tidak cocok untuk multitasking atau aplikasi berat.

Verdict: Untuk Siapa Laptop Ini?

Avita Magus 2-in-1 cocok untuk: Pelajar atau mahasiswa yang butuh perangkat kedua untuk mengetik ringan, browsing, dan menonton video. Atau sebagai tablet tambahan di rumah dengan fungsi laptop darurat. Harganya yang murah juga cocok buat yang budget terbatas.

Kurang cocok untuk: Siapa pun yang menjadikan ini laptop utama. Performa Celeron N4020 dan RAM 4GB akan terasa lambat untuk pekerjaan kantoran, coding, atau desain grafis. Layar TFT juga kurang nyaman untuk pemakaian outdoor.

Kesimpulannya, Avita Magus 2-in-1 adalah bukti bahwa harga murah selalu punya konsekuensi. Kamu dapat fleksibilitas hybrid, tapi harus rela dengan performa yang pas-pasan. Kalau kamu tahu batasannya dan siap berkompromi, ini bisa jadi pilihan menarik. Tapi kalau butuh laptop yang benar-benar bisa diandalkan untuk kerja, cari opsi lain dengan prosesor yang lebih bertenaga.

Reporter: Lukman Hakim
Sumber: sumeks.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top