DONGGALA — Prevalensi stunting 29,6 persen di Kabupaten Donggala mendorong Pemkab untuk menggerakkan seluruh elemen desa dalam satu sistem penanganan yang solid. Bupati Vera Elena Laruni mengatakan penguatan kelembagaan desa mencakup pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), TP PKK, kader Posyandu, hingga Kader Pembangunan Manusia (KPM).
Dalam keterangannya di Banawa, Sabtu, Vera menyebut stunting pada 1.000 hari pertama kehidupan bisa merusak perkembangan otak anak secara permanen. "Penurunan kasus merupakan investasi kemanusiaan yang harus diwujudkan melalui gerakan bersama yang dimulai dari keluarga dan lingkungan masyarakat di desa," ujarnya.
Pemkab Donggala mengintegrasikan lima layanan konvergensi stunting: kesehatan ibu dan anak, konseling gizi terpadu, perlindungan sosial, sanitasi dan air bersih, serta pendampingan anak usia dini. Seluruh data dari desa menjadi dasar kebijakan dan prioritas penanganan ke depan.
Aplikasi Electronic Human Development Worker (E-HDW) menjadi instrumen utama bagi KPM untuk mencatat, memantau, dan mengevaluasi layanan secara real-time. "Melalui aplikasi itu pemerintah daerah memperoleh data riil mengenai kondisi masyarakat, sehingga setiap intervensi, seperti pemberian makanan tambahan, pelayanan kesehatan, perbaikan sanitasi, penyediaan air bersih, maupun layanan pendidikan anak usia dini, dapat dilakukan secara tepat sasaran," jelas Vera.
Dengan data akurat dari masing-masing desa, Pemkab dapat menentukan kebijakan yang lebih terukur. Vera mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar terus berkolaborasi dalam percepatan penurunan stunting.
Bupati menargetkan penekanan angka prevalensi secara signifikan menuju zero stunting. "Harapannya melalui penguatan kelembagaan desa serta optimalisasi pemanfaatan aplikasi E-HDW bisa menekan angka prevalensi stunting secara signifikan menuju zero stunting," tuturnya.
Data 29,6 persen menjadi alarm bagi semua pihak. Dengan sistem kelembagaan desa yang solid dan penggunaan teknologi data, Donggala berharap dapat memutus rantai stunting pada generasi penerus.