SULAWESI TENGAH — Bertanding di kandang lawan yang legendaris, Lord's, London, tim kriket wanita Australia menunjukkan kelasnya dengan mengejar target 151 run yang dibutuhkan tanpa kesulitan trengginas. Kehilangan tiga wicket di awal tak membuat langkah mereka gentar dalam laga yang berlangsung, kemarin.
Kemenangan ini bukan sekadar mempertahankan gelar, melainkan sebuah pernyataan dominasi mutlak. Sejak Piala Dunia T20 Wanita pertama kali digelar pada 2009, Australia hanya pernah gagal menjadi juara di dua edisi—tahun 2010 dan 2016. Sisanya, mahkota juara selalu mereka bawa pulang.
“Mereka mendapatkan kembali mahkota mereka!” demikian bunyi narasi dalam laporan pertandingan yang disiarkan BBC. Frasa itu merujuk pada kegagalan Australia di final Piala Dunia ODI 2017 yang juga digelar di Inggris, di mana mereka dikalahkan oleh tim tuan rumah.
Pertandingan yang sempat terkendala masalah sinyal siaran—dengan pesan “This content is not available in your location” dan “Available to UK users only” muncul di layar penonton internasional—tetap menyajikan aksi kriket kelas atas. Inggris yang berhasil mengumpulkan 151 run untuk 8 wicket ternyata belum cukup untuk membendung agresivitas batting Australia.
Gempuran cepat dari lini atas Australia membuat perburuan run terasa mudah. Mereka mencapai angka kemenangan dengan kehilangan hanya tujuh wicket dan masih menyisakan banyak bola, mengulang skenario final edisi 2018 di Karibia yang juga dimenangkan Australia.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Inggris yang bermain di hadapan pendukung sendiri. Mereka gagal memanfaatkan status tuan rumah untuk merebut gelar yang terakhir kali mereka raih pada edisi 2009. Sementara bagi Australia, gelar ini mempertegas status mereka sebagai kerajaan yang tak tergoyahkan di format T20.
Pertanyaan selanjutnya kini mengarah pada regenerasi skuad Inggris dan apakah ada tim lain yang mampu mematahkan dominasi Australia di edisi mendatang.